Welhemina Turunkan Bendera RMS dari Ketinggian, Dorongan Cinta Ibu dan Merah Putih

Insidecikarang.com || Maluku — Kisah keberanian seorang ibu di Negeri Aboru, Maluku, menjadi perhatian setelah aksinya menurunkan sebuah bendera yang disebut sebagai bendera RMS dari sebuah tower pada Kamis pagi, 13 Agustus 2026.
Perempuan tersebut, Welhemina Rumra/Sinay, diketahui baru saja pulang dari aktivitas sehari-harinya berjualan kue. Dalam perjalanan menuju rumah, ia mendengar sejumlah warga membicarakan keberadaan sebuah bendera dengan empat warna yang terlihat berkibar dari atas tower di kawasan pegunungan.
Informasi tersebut kemudian membuat perhatian Welhemina tertuju ke arah tower. Terlebih, ia mengaku memiliki kekhawatiran tersendiri karena putranya, Natalius Sinai, merupakan anggota TNI yang saat ini masih menjalani masa pendidikan di Rindam Suli.
Dorongan sebagai seorang ibu sekaligus rasa tanggung jawab terhadap apa yang dilihatnya membuat Welhemina mengambil inisiatif sendiri. Ia meminta seseorang mengantarnya menuju lokasi tower sebelum kemudian berusaha mencapai bagian atas bangunan tersebut.
DI HADAPAN KETINGGIAN, DOA MENJADI PENGUAT
Setibanya di lokasi, Welhemina sempat menyadari besarnya risiko yang berada di hadapannya. Ketinggian tower membuatnya berhenti sejenak dan memanjatkan doa sebelum melanjutkan langkah.
Namun, tekadnya tidak surut.
Dalam pikirannya, keberadaan sang anak yang sedang menjalani pendidikan sebagai prajurit menjadi salah satu alasan yang menguatkan keberaniannya. Ia khawatir keberadaan simbol tersebut dapat menimbulkan persoalan dan berharap tidak terjadi sesuatu yang berdampak terhadap anaknya.
Dengan kehati-hatian, Welhemina kemudian melanjutkan perjalanan menuju bagian atas tower.
Di tengah perjalanan, ia sempat berhenti selama beberapa menit sebelum kembali melanjutkan hingga mencapai titik tempat bendera tersebut berada.
Setelah berhasil mengambilnya, bendera itu dilipat dan disimpan di balik pakaiannya. Ia kemudian turun secara perlahan hingga akhirnya tiba kembali di bawah dalam keadaan selamat.
Bagi Welhemina, apa yang dilakukannya bukan sekadar persoalan sebuah bendera. Ada rasa tanggung jawab, kecintaan kepada keluarga, serta keyakinan bahwa Merah Putih dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus tetap berada di dalam hati.
PESAN SEORANG IBU: “NKRI SELALU DI HATI”
Kisah tersebut kemudian mendapat perhatian setelah diberitakan dan sampai kepada Pangdam XV/Pattimura.
Apresiasi pun disampaikan terhadap keberanian dan inisiatif Welhemina. Pangdam Mayjen TNI Dody Triwinarto, S.I.P., M.Han. bahkan menyampaikan keinginan untuk bertemu langsung dengan Ibu Welhemina
Pesan yang ingin disampaikan pun sederhana, namun memiliki makna yang kuat.
“Kapan nanti saya ketemu dengan Ibu Welhemina Rumra, Terima kasih. NKRI selalu di hati.”
Kalimat tersebut menjadi penutup yang menggambarkan penghargaan terhadap semangat kebangsaan yang ditunjukkan Welhemina.
Di balik keberanian itu, terdapat kisah seorang ibu yang melihat sesuatu yang dianggapnya perlu disikapi. Bukan semata karena keberanian menghadapi ketinggian, melainkan karena dorongan cinta kepada anak, rasa tanggung jawab, dan keyakinan terhadap Indonesia.
Namun demikian, aksi memanjat tower dengan ketinggian puluhan meter memiliki risiko keselamatan yang sangat serius. Keberanian tersebut tidak semestinya ditiru, dan setiap persoalan serupa sebaiknya ditangani melalui prosedur keselamatan serta kewenangan yang tepat.
Pada akhirnya, kisah Welhemina bukan hanya tentang sebuah bendera yang diturunkan dari ketinggian. Ia menjadi cerita tentang seorang ibu yang, dalam caranya sendiri, ingin memastikan bahwa pesan kebangsaannya tetap sederhana: Merah Putih di dada, NKRI di hati.
Sumber : Lentera Maluku
