Diduga Karena Tidak Memiliki Biaya ,Salah Satu Pasien Ditahan Pihak RS Swasta Karawang
Insidecikarang.com||Karawang,-Nasib pilu dialami keluarga Dina Angelinawarga Kampung Kedung Salam, RT04/RW08, Desa Plawad, Kecamatan Karawang Timur, sang buah hati Muhammad Faqih Al- Ghifari (5) menderita sakit cacar air sudah tiga pekan ditahan pihak rumah sakit swasta di Kabupaten Karawang lantaran terkendala biaya.
Muhammad Faqih Al- Ghifari dilarang pulang karena dina tidak mampu membayar biaya pengobatan anaknya yang mencapai Rp 19,500 juta oleh pihak rumah sakit yang berlokasi di Jl. Wirasaba Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur.
“Demi Allah mohon tolong saya, berikanlah kebijaksanaan, saya tidak mampu, saya juga mau bayar, tapi tidak hari ini. Namun, pihak rumah sakit malah melarang anak saya pulang sampai ada uang tebusan 80 persen,” katanya sambil menangis saat dikonfirmasi, Senin (25/09/2023).
Awal mula persoalan dimulai sejak tanggal (30/08/20233) sekitar tiga Minggu lalu. Saat itu, pihak rumah sakit swasta tersebut, menahan kepulangan sang anak, Muhammad Faqih, yang telah diagnosis sehat dokter yang memeriksa anaknya.
“Dokter sendiri yang mengatakan sudah sembuh, tapi pas dateng bagian administrasi sempat juga kerumah dan saya menyampaikan bahwa anak saya mau pulang serta mau membayar dengan cara mencicil, pihak rumah sakit malah menahannya sampai sekarang,” jelasnya.
“Kita masih menunggu biaya untuk pulang kerumah. Lalu di impus sampai seminggu, pihak rumah sakit belum juga membolehkan pulang (ditahan) karena belum ada biaya sedangkan dirumah sakit sudah tidak diberikan makanan, tidak ada kebijakan dari rumah sakit sedikit pun,” sambungnya.
Ia mengakui, total kewajiban bayar yang harus diselesaikan, awalnya sekitar Rp 6 juta untuk empat hari perawatan. Namun, sejak tiga pekan, biaya yang harus dibayarkan terus membengkak menjadi Rp 23 juta terhitung per hari Selasa (26/09).
“Kalau semakin lama di sini jelas semakin bertambah, mana saya juga sudah tidak punya bekal selama di rumah sakit, mohon kebijaksanaannya, saya janji akan membayar, tapi tolong izinkan anak saya untuk keluar dari rumah sakit,” ujar dia merintih meminta belas kasihan pihak rumah sakit.
Dina menjelaskan, selama ini sang suami yang bekerja sebagai kuli proyek serabutan itu terus berupaya mencari biaya demi sang buah hati, dirinya sudah beberapa kali mengajukan keringanan kepada pihak rumah sakit dengan alasan tidak mampu, tetapi hingga kini belum ada kebijaksanaan yang ia peroleh.
“Kata salah seorang pegawai dari pihak menagement ibu Roro dan kepala ruangan ibu Indah saat keruangan alasannya tetap tidak bisa (keluar), saya tidak mau bertanggung jawab sebab saya juga pegawai kata dia harus ada biaya masuk baru bisa keluar,” ujar Dina menirukan jawaban pegawai rumah sakit, saat proses negosiasi.
“Alasan anak saya ditempatkan di ruangan klas 1 (VIP) karena penyakit ini nular dan tidak bisa disatukan dengan pasien lain atau kelas 2,3,” bebernya.
Hingga pukul 10.00 siang ini, Dina mengaku, ia bersama anaknya masih berada di ruang
Ruang Melati 2 rumah sakit tersebut, sambil menunggu suami dan pihak yang mau mengulurkan pertolongan.
“Selama di dalam ruangan tiga Minggu lebih, anak saya tidak lagi mendapatkan makanan dan katanya sudah di stop oleh dokter,” ujarnya.
“Harapannya untuk saya dan anak saya pulang dulu, karena saya sedang hamil 9 bulan, saya meminta pihak rumah sakit memberikan keringanan untuk pulang karena tidak mungkin didalam rumah sakit terus biaya makin membengkak,” kata dia dengan penuh berharap.
Pewarta_Ujg

